Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Sahabat Nabi Said Bin Zaid RA

 

Said Bin Zaid RA

Kisah Sahabat Nabi Said Bin Zaid RA

Patimon.site - Said bin Zaid al Adawy RA adalah salah satu sahabat Rasulullah yang telah menerima cahaya Islam pada awal zaman, menjadikannya bagian dari kelompok yang disebut "as Sabiqunal Awwalun" atau para pelopor pertama dalam memeluk agama ini. Bersama sang istri, Fathimah binti Khaththab, yang merupakan adik dari Umar bin Khaththab, dia menemukan jalan menuju iman. Sejak masa remajanya di zaman jahiliah, Sa'id telah menolak terjerumus dalam praktik-praktik umum yang biasanya dilakukan oleh suku Quraisy, seperti menyembah berhala, berjudi, minum keras, dan perilaku tercela lainnya.

Sikap dan pandangan hidupnya ini sejalan dengan ajaran ayahnya, Zaid bin Amru bin Naufal. Sejak dulu, Zaid bin Amru telah mengakui kebenaran agama Ibrahim, namun menolak mengikuti agama Yahudi atau Nashrani yang, menurutnya, telah menyimpang jauh dari ajaran Ibrahim. Dengan penuh keberanian, ia mengkritik praktik-praktik penyembahan berhala dan perilaku jahiliah yang dilakukan oleh kaum Quraisy. Bahkan, di hadapan Ka'bah, tempat ritual-rutal penyembahan suku Quraisy dilakukan, ia pernah berdiri tegak seraya bertanya, "Wahai suku Quraisy, bukankah di antara kalian ada yang mengikuti agama Ibrahim selain diriku?"

Zaid bin Amru juga mengambil peran aktif dalam melawan kebiasaan mengerikan suku Quraisy yang mengubur hidup-hidup anak perempuannya karena dianggap sebagai aib. Ia dengan tulus menyatakan kesiapannya untuk merawat anak-anak perempuan tersebut. Selain itu, ia menolak keras untuk makan daging hewan sembelihan yang tidak disebut nama Allah pada saat penyembelihannya, dan juga menolak makan dari hewan yang disembelih untuk berhala.

Seakan merasakan panggilan dari dalam hatinya, ia pernah berbagi dengan sahabat dan kerabatnya, "Aku menantikan kedatangan seorang Nabi dari keturunan Ismail. Meskipun mungkin aku tidak akan sempat melihatnya, iman dan keyakinanku padanya tidak pernah pudar."

Sebelum Rasulullah Muhammad SAW diangkat sebagai Nabi dan Rasul, Zaid bin Amru sempat bertemu dan berinteraksi dengannya. Pemuda yang kelak menjadi Nabi ini mengesankan baginya dengan akhlaknya yang mulia dan pandangan hidup yang sejalan mengenai tradisi jahiliah kaum Quraisy. Namun, sayangnya, Zaid bin Amru wafat ketika suku Quraisy sedang melakukan perbaikan pada Ka'bah, saat Nabi Muhammad SAW berusia 35 tahun.
Dengan didikan yang demikian, Sa'id bin Zaid tumbuh menjadi seorang yang kuat. Karena itu, saat Nabi Muhammad SAW menyampaikan ajaran risalah Islam, Sa'id dan istrinya merespon dengan segera tanpa ragu. Meskipun pada saat itu kaum Quraisy telah melancarkan siksaan mengerikan kepada para penganut Islam, termasuk Umar bin Khaththab, kakak ipar Sa'id yang terkenal sebagai petarung ulung di pasar Ukadz. Meskipun ia masih merahasiakan keislamannya dan keislaman istrinya, tidak ada ketakutan atau keraguan dalam hati mereka.

Suatu hari, Sa'id dan istrinya sedang dalam proses belajar mengaji Al-Qur'an dari sahabat mereka, Khabbab bin Arats, tiba-tiba terdengar ketukan yang keras di pintu rumah mereka. Ketika mereka bertanya siapa yang datang, jawabannya adalah Umar dengan nada garang. Momen khusyuk dalam pelajaran Al-Qur'an seketika berubah menjadi situasi kacau. Khabbab dengan segera bersembunyi sambil berdoa memohon pertolongan Allah. Sa'id dan istrinya pun bergegas ke pintu sambil berusaha menyembunyikan lembaran-lembaran mushaf di balik pakaian mereka. Setelah pintu terbuka oleh Sa'id, Umar langsung menyampaikan pertanyaan tajam dengan mata yang memancarkan ancaman, "Apakah benar kabar yang saya dengar bahwa kalian telah murtad?"

Sebelum kejadian ini, Umar sebenarnya telah memutuskan untuk membunuh Nabi Muhammad SAW. Kemarahannya telah mencapai titik tertinggi karena akibat dakwah Islam yang disebarkan oleh Nabi SAW, kaum Quraisy mengalami perpecahan dan kekacauan. Menurut pemikiran Umar, dengan menghilangkan atau membunuh Nabi, keadaan akan kembali normal seperti sebelumnya. Namun, dalam perjalanan menuju ke tempat Nabi, Umar bertemu dengan Nu'aim bin Abdulah yang memberitahu bahwa adiknya, Fathimah, dan suaminya telah memeluk Islam. Nu'aim menyarankan agar Umar mengurus urusan keluarganya sendiri sebelum mencampuri urusan orang lain. Akibatnya, kemarahan Umar beralih kepada keluarga adiknya.

Pada saat itu, Sa'id melihat bahaya yang mengancam dari pandangan tajam Umar. Namun, keimanan yang menguat di dalam dirinya memberikan kekuatan ekstra yang luar biasa. Alih-alih menyangkal tuduhan tersebut, Sa'id justru dengan tegas berkata, "Wahai Umar, bagaimana pendapatmu jika kenyataannya kebenaran berada di pihak kami?"

Mendengar jawaban tersebut, Umar melepaskan amarahnya pada Sa'id. Ia meraih Sa'id, memutar lehernya, dan kemudian menjatuhkannya ke tanah. Umar menginjak-injak Sa'id dan memijak dadanya. Sepertinya Umar berkeinginan memberikan pukulan pamungkas kepada Sa'id, seperti saat ia mengakhiri perlawanan musuhnya di pasar Ukadz. Fathimah berusaha membela suaminya, tetapi ia menerima pukulan keras dari Umar yang mengenai wajahnya hingga ia terjatuh dan darah mulai mengalir dari bibirnya. Kondisi Sa'id sangat memprihatinkan, karena ia bukanlah lawan seimbang bagi Umar dan ia hanya bisa pasrah pada takdirnya, yakin bahwa Umar akan mengakhiri hidupnya.
Namun tiba-tiba terdengar suara keras Fathimah, istri Sa'id. Bukan suara ketakutan, melainkan suara perlawanan yang penuh dengan keberanian. Dengan semangat penuh, ia berteriak, "Hai musuh Allah, berani kau memukulku karena aku beriman kepada Allah! Hai Umar, lakukanlah apa yang kau mau, karena aku tetap akan bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah!"

Umar terkejut dan terpukau oleh pekikan itu, seakan-akan suara itu menembus hatinya. Ia merasa terkejut dan heran. Wanita yang lemah, adiknya sendiri, berani menghadapinya dengan perlawanan yang gigih. Tetapi dari keheranan dan keraguannya itu, kemarahannya mereda. Pekikan Fathimah menjadi titik balik dalam hidup Umar, yang kemudian membawanya mendapatkan petunjuk dan akhirnya memeluk Islam.

Seperti para sahabat lainnya yang memeluk Islam di awal masa dakwah, Sa'id bin Zaid juga merupakan individu yang menghabiskan banyak waktunya untuk beribadah dan memiliki semangat zuhud yang tinggi. Ia tidak pernah absen dalam berbagai pertempuran untuk menjunjung tinggi nilai-nilai iman. Meskipun ia tidak ambil bagian dalam Pertempuran Badar, karena Nabi SAW telah memerintahkannya untuk menjalankan tugas mata-mata di Syam bersama Thalhah bin Ubaidillah, namun ia tetap dianggap sebagai salah satu Ahlul Badr dan mendapatkan bagian dari hasil perang tersebut, meskipun ia secara fisik tidak terlibat dalam pertempuran tersebut. Ada tujuh sahabat selain Sa'id yang juga tidak ambil bagian dalam Pertempuran Badar namun dianggap sebagai Ahlul Badr oleh Nabi SAW.

Selain itu, Sa'id juga termasuk dalam kelompok sepuluh sahabat yang Nabi SAW menjamin akan masuk surga dalam masa hidupnya. Kesembilan sahabat lainnya adalah empat Khulafaur Rasyidin, Abdurrahman bin Auf, Sa'd bin Abi Waqqash, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, dan Abu Ubaidah bi Jarrah.

Sa'id mengalami masa kejayaan Islam, di mana wilayah Islam semakin meluas dan jabatan-jabatan tersedia. Meskipun berhak untuk menduduki posisi terhormat, ia memilih untuk menghindarinya. Bahkan dalam banyak pertempuran, ia lebih memilih menjadi prajurit biasa. Setelah Damaskus ditaklukkan dan Sa'd bin Abi Waqqash menetapkan dirinya sebagai gubernur, Sa'id memohon dengan rendah hati agar komandan mereka memilih orang lain untuk posisi tersebut. Ia ingin terus berjuang dalam penegakan kalimat Allah dan panji-panji kebenaran, suatu peran yang tidak dapat ia lakukan jika memegang jabatan gubernur. Ia ingin tetap menjadi prajurit yang bersedia berjuang demi kebenaran dan tidak terikat dengan jabatan yang dapat menghalangi dedikasinya.
Sejalan dengan penolakannya terhadap jabatan dan harta dunia, Sa'id bin Zaid juga hidup dengan penuh kesederhanaan. Namun, pada masa kepemimpinan Khalifah Umar, harta kekayaan mulai mengalir ke Baitul Mal (Perbendaharaan Islam) dengan berlimpah, dan secara tidak langsung, para sahabat awal seperti Sa'id bin Zaid juga menerima bagian dari harta tersebut. Bahkan, Khalifah Umar memberikan lebih banyak bagiannya dibandingkan dengan sahabat yang memeluk Islam kemudian, yaitu setelah Fathul Makkah terjadi. Namun, meskipun ia menerima bagian dari harta tersebut, ia dengan cepat memberikan sedekah lagi, meninggalkan hanya sejumlah kecil untuk dirinya.

Namun, walaupun ia hidup dengan sikap yang sederhana, masih ada orang yang menfitnahnya dengan tuduhan hidup duniawi. Kejadian ini terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Muawiyah, ketika ia telah menghabiskan sisa hidupnya untuk beribadah di Madinah. Seorang wanita bernama Arwa binti Aus menuduh Sa'id telah merampas tanah miliknya. Awalnya, Sa'id tidak terlalu memperhatikan atau memperdulikan tuduhan tersebut. Ia hanya memberikan penjelasan singkat dan memberikan nasehat kepada wanita tersebut untuk tidak membuat kebohongan. Namun, wanita itu tetap pada pendiriannya dan bahkan melaporkan kasus ini kepada gubernur Madinah.

Marwan bin Hakam, gubernur Madinah yang merupakan paman Muawiyah, memanggil Sa'id untuk mempertanggungjawabkan tindakannya. Saat berhadapan dengan Marwan, Sa'id membantah tuduhan tersebut. Ia berkata, "Mungkinkah saya menganiaya wanita ini (merampas tanahnya), padahal saya mendengar Rasulullah SAW berkata: 'Barang siapa yang mendzalimi seseorang dengan sejengkal tanah, maka Allah akan memasukkan tujuh lapis bumi ke dalam lingkaran bumi pada hari kiamat!'"

Sa'id seringkali meriwayatkan hadits-hadits Nabi SAW, termasuk hadits yang menjadi pegangan dalam pembelaannya ini. Ada pula hadits serupa yang ia sampaikan, yaitu, "Barang siapa yang berbuat dzalim terhadap sejengkal tanah, maka ia akan dikalungkan tujuh lapis bumi, dan barang siapa yang mati saat membela hartanya, maka ia mati sebagai syahid."

Kemudian, Sa'id berpaling ke arah kiblat dan berdoa, "Ya Allah, jika ia (wanita tersebut) sengaja berbohong, janganlah Engkau merenggut nyawanya hingga ia buta, dan jadikan sumurnya sebagai kuburannya!"

Tidak lama setelah itu, Arwa binti Aus benar-benar menjadi buta, dan dalam kondisi seperti itu, ia tergelincir ke dalam sumur miliknya sendiri dan meninggal di dalamnya. Meskipun Sa'id berdoa dengan suara tidak begitu keras, beberapa orang berhasil mendengarnya. Mereka menyadari bahwa doanya diterima dan Sa'id bin Zaid berada dalam kebenaran. Nama dan kebajikannya semakin dikenal, dan banyak orang datang kepada Sa'id untuk meminta doa darinya.

Meskipun menjadi salah satu dari as Sabiqunal Awwalin, para pelopor awal Islam, yang selalu berjuang dan berjihad di jalan Allah setiap kesempatan, dan bahkan telah dijamin masuk surga oleh Nabi Muhammad SAW ketika masih hidup bersama sembilan sahabat lainnya, Sa'id bin Zaid tidak terlalu menonjol dalam sorotan dan popularitas. Ia tidak mencari ketenaran, lebih memilih untuk "bersembunyi". Walaupun demikian, ketulusan dan kesungguhannya dalam ibadah kepada Allah tetap melekat padanya, bahkan saat ia hidup di antara banyak sahabat lainnya. Setelah peristiwa dengan Arwa binti Aus dan kunjungan banyak orang, Sa'id merasa tidak nyaman. Kehidupan Muslim saat itu, meskipun di Madinah, mulai mengikuti kemewahan dunia. Jejak hidup Nabi dan sahabat awalnya yang penuh kesederhanaan dan zuhud sedikit demi sedikit mulai memudar. Oleh karena itu, Sa'id memilih untuk pindah ke wilayah yang lebih terpencil, yaitu Aqiq. Di tempat tersebut, ia akhirnya meninggal pada tahun 50 atau 51 Hijriah. Jenazahnya dibawa pulang ke Madinah oleh Sa'd bin Abi Waqqash dan Abdullah bin Umar, keponakannya, dan ia dimakamkan di Baqi bersama sahabat Rasulullah SAW lainnya.

Itulah kisah sahabat nabi said bin zaid RA, semoga bermanfaat.👀

Posting Komentar untuk "Kisah Sahabat Nabi Said Bin Zaid RA"