Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bagaimana Niat Puasa Idul Adha?

Bagaimana Niat Puasa Idul Adha?

Bagaimana Niat Puasa Idul Adha?

Patimon.site - Niat puasa Idul Adha bisa dilakukan oleh mereka yang ingin menjalankan puasa sunnah. Ini memiliki keutamaan tersendiri yang akan mendatangkan pahala bagi pelaksananya.

Menjalankan ibadah sunnah pada hari yang penuh berkah seperti Hari Raya Idul Adha merupakan hal istimewa bagi umat Islam. Terdapat beberapa ibadah sunnah seperti puasa tarwiyah dan arafah yang dapat dijalankan. Untuk memulainya, penting untuk membaca niat puasa Idul Adha.

Puasa sunnah ini akan memberikan pahala kepada mereka yang melaksanakannya. Meskipun tidak wajib, melaksanakan puasa ini memiliki banyak keutamaan yang membuat umat Islam tertarik untuk melaksanakannya.

Untuk memastikan keabsahan ibadah, perlu mengikuti tata cara yang benar agar diterima oleh Allah SWT. Apakah puasa sunnah Idul Adha ini berbeda dengan puasa sunnah lainnya? Untuk informasi lebih lanjut, mari kita bahas secara lengkap pada pembahasan di bawah ini.

Niat Puasa Idul Adha

Puasa Idul Adha akan dijalankan pada tanggal 8 dan 9 Dzulhijjah, yang berlangsung sebelum tanggal 10 Dzulhijjah yang merupakan hari raya Idul Adha. Puasa ini memiliki dua jenis yang berbeda, yaitu:

1. Niat Puasa Tarwiyah

Puasa Tarwiyah dilaksanakan pada tanggal 8 Dzulhijjah. Puasa ini terkait dengan peristiwa Nabi Ibrahim ketika menerima wahyu dari Allah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. Dalam peristiwa ini, Nabi Ibrahim AS merenungkan mimpi yang diterimanya sebagai wahyu dari Allah SWT. Untuk menjalankan puasa tarwiyah, berikut niat yang dapat dilafalkan:

نَوَيْتُ صَوْمَ التَّرْوِيَةِ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma tarwiyah lillâhi ta‘ālā.

Artinya: “Aku berniat puasa sunnah Tarwiyah karena Allah SWT.”

2. Niat Puasa Arafah

Berbeda dengan Puasa Tarwiyah, puasa yang dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijjah adalah Puasa Arafah. Puasa ini terkait dengan lokasi ibadah haji, khususnya saat pelaksanaan rukun haji yang disebut wukuf di padang Arafah.

Untuk melaksanakan ibadah puasa Arafah ini, seseorang seolah-olah mengikuti ibadah haji di tanah suci. Berikut ini adalah niat puasa Arafah:

نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma Arafah lillâhi ta‘âlâ.

Artinya: “Aku berniat puasa sunnah Arafah karena Allah SWT.”

Namun, sunnah yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad adalah untuk berpuasa mulai dari tanggal 1 Dzulhijjah hingga tanggal 9 Dzulhijjah. Niat puasa ini sebaiknya dibaca dalam hati, mirip dengan cara kita berpuasa dalam ibadah lainnya.

Terdapat sebuah hadis Nabi yang mengungkapkan tentang hari ibadah yang terbaik, yaitu:

“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa ‘Arofah? Beliau menjawab, ”Puasa ‘Arofah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu” (HR. Muslim no. 1162).

3. Niat Puasa Idul Adha di Siang Hari

Membaca niat puasa hanya wajib dilakukan pada malam hari untuk puasa yang wajib, seperti puasa Ramadan. Namun, untuk puasa sunnah, niat bisa dibaca saat memulai puasa tersebut. Oleh karena itu, membaca niat puasa pada siang hari tetap memungkinkan.

Tidak akan membuat puasa menjadi tidak sah jika niatnya diucapkan dalam hati pada siang hari, selama pelaku puasa belum melakukan tindakan yang membatalkan puasa. Untuk melakukan niat puasa di siang hari, berikut ini adalah niatnya:

• Niat puasa tarwiyah di siang hari

نَوَيْتُ صَوْمَ هٰذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ تَرْوِيَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma haadzal yaumi ‘an adaa’i tarwiyata sunnatan lillahi taalaa.

Artinya, “Saya niat puasa sunah Tarwiyah hari ini karena Allah ta’ala.”

• Niat puasa arafah di siang hari

نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ عَرَفَةَ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnati Arafah lillâhi ta‘âlâ.

Artinya, “Aku berniat puasa sunah Arafah hari ini karena Allah Swt.”

Keutamaan Niat Puasa Idul Adha

Seperti yang diketahui, puasa Idul Adha seperti puasa Tarwiyah dan Arafah adalah sunnah yang akan memberikan pahala kepada pelaksananya. Di samping itu, terdapat berbagai keutamaan dari puasa Idul Adha, termasuk:

1. Menghapus Dosa Selama 2 Tahun

Seseorang yang melaksanakan puasa Arafah, khususnya, akan mampu menghapus dosa-dosanya selama 2 tahun. Periode 2 tahun ini dihitung mulai dari satu tahun sebelum puasa Arafah hingga satu tahun setelah pelaksanaan puasa Arafah, sebelum Hari Raya Idul Adha.

Berbeda dengan puasa Asyura, yang hanya mampu menghapus dosa selama 1 tahun sebelumnya. Keutamaan dari puasa Arafah ini sangat baik dan dapat membantu seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Melaksanakan puasa Arafah dapat membantu seorang Muslim untuk mendapatkan pengampunan atas dosanya.

Dengan menjalankan puasa sunnah Arafah dengan baik, seseorang dapat merasa kembali suci. Oleh karena itu, sangat disayangkan jika melewatkan ibadah sunnah ini. Terdapat pula hadis yang menguatkan keutamaan dari ibadah sunnah ini, Nabi Muhammad SAW bersabda:

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ

Artinya: "Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyura (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu." (HR Muslim).

Menurut mayoritas ulama, dosa-dosa yang dihapus karena puasa Arafah yaitu dosa kecil. (An-Nawawi, Syarah Muslim, juz 3, h. 113).

2. Pahala Akan Dilipatgandakan

Bagi mereka yang menjalankan puasa sunnah selama bulan Dzulhijjah, mulai dari tanggal 1 Dzulhijjah hingga 9 Dzulhijjah, Allah akan melipatgandakan pahalanya. Bulan Dzulhijjah begitu istimewa sehingga memberikan pahala yang berlipat-lipat.

Aktivitas ibadah yang dilakukan selama sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah juga diberikan perlakuan serupa, yaitu pahala-pahala yang diperoleh akan sangat banyak dan dilipatgandakan. Tentang hal ini, terdapat hadis dari sabda Rasulullah SAW yang menyatakan:

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَحَبَّ إِلَى اللّٰهِ أَنْ يُتَعَبَّدَ لَهُ فِيْهَا مِنْ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ يَعْدِلُ صِيَامُ كُلِّ يَوْمٍ مِنْهَا بِصِيَامِ سَنَةٍ وَقِيَامُ كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْهَا بِقِيَامِ لَيْ الْقَدْرِ

Artinya: "Tidak ada hari-hari yang lebih Allah sukai untuk beribadah selain sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, satu hari berpuasa di dalamnya setara dengan satu tahun berpuasa, satu malam mendirikan shalat malam setara dengan shalat pada malam Lailatul Qadar." (HR At-Tirmidzi).

3. Dibebaskan dari Siksa Api Neraka

Salah satu keutamaan yang diperoleh dengan menjalankan puasa di bulan Dzulhijjah adalah pembebasan dari siksa api neraka. Oleh karena itu, niat puasa Idul Adha harus berasal dari hati yang tulus dan diucapkan dengan ikhlas dan kesadaran.

Ketika menjalankan ibadah puasa, sangat penting untuk melakukannya dengan sungguh-sungguh karena salah satu keutamaannya adalah pembebasan dari siksa api neraka. Keutamaan ini akan diperoleh pada hari raya Idul Adha, khususnya saat menjalankan puasa sunnah Arafah. Tidak ada hari yang lebih baik daripada hari Arafah, di mana Allah akan membebaskan hamba-hamba-Nya dari siksa api neraka, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW:

 مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ: مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ؟

Artinya: "Tidak ada hari dimana Allah membebaskan hamba dari neraka lebih banyak daripada Hari Arafah, dan sungguh Dia mendekat lalu membanggakan mereka di depan para Malaikat dan berkata: ‘Apa yang mereka inginkan?" (HR Muslim).

4. Amalan yang Sangat Disukai Allah SWT

Salah satu amal sholeh yang sangat dicintai oleh Allah SWT adalah puasa selama bulan Dzulhijjah, yang juga sangat diistimewakan. Tidak ada ibadah yang dapat melampaui amal sholeh yang dilakukan selama 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.

Bulan Dzulhijjah adalah bulan yang penuh berkah, di mana dosa-dosa diampuni oleh Allah, pelaksana ibadah dibebaskan dari siksa api neraka, dan pahala bagi umat Muslim yang melakukannya dilipatgandakan.

Amalan yang sangat disukai oleh Allah SWT adalah amalan yang mengikuti jalan-Nya dengan tulus. Contohnya, amalan sunnah yang dapat dilakukan selama 10 hari pertama bulan Dzulhijjah termasuk berpuasa, berdzikir, dan mengucapkan takbir untuk menyambut Hari Raya Idul Adha.

Sabda Rasulullah SAW memperkuat keyakinan atas janji Allah SWT, seperti yang berikut:

"Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama Dzulhijjah)."Para sahabat bertanya: "Tidak pula jihad di jalan Allah?" Nabi shallallahu'alaihi wa sallam menjawab: "Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun." (HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968).

5. Menjalankan Sunnah Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad SAW adalah teladan yang sangat baik bagi umat Islam. Segala perbuatan yang beliau lakukan memiliki nilai ibadah dan berpotensi mendatangkan pahala yang luar biasa. Ketika seorang Muslim mengikuti sunnah Nabi, ia akan mendapatkan pahala yang besar.

Selain pahala dari Allah SWT yang dapat dikumpulkan selama hari-hari istimewa ini, di akhirat, saat hisab (penghisaban), akan diberikan syafaat atau pertolongan oleh Nabi Muhammad SAW kepada mereka yang menjalankan sunnahnya. Sebagai umat Islam, sangatlah penting untuk meneladani amalan-amalan yang dilakukan oleh Rasulullah.

Selama bulan Dzulhijjah, selain puasa, ada berbagai amalan sholeh yang dapat dilakukan sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT, seperti:

Berdzikir kepada Allah SWT karena bulan ini merupakan bulan dzikir yang membawa manfaat besar bagi umat Islam.

  • Berkurban bagi yang mampu secara finansial.
  • Membaca takbir dari akhir 9 Dzulhijjah hingga 13 Dzulhijjah.
  • Melakukan tasbih, tahmid, dan takbir sebagai amalan sholeh.
  • Berpartisipasi dalam proses penyembelihan, pemotongan daging, dan pendistribusian kepada sesama Muslim.
  • Menjalin silaturahmi dengan baik.
  • Mengolah daging kurban menjadi hidangan lezat dan menikmatinya bersama keluarga.
  • Menghindari tindakan yang diharamkan pada hari raya Idul Adha, seperti berpuasa selama hari tasyrik.
  • Membaca surat-surat Al-Qur'an dengan rajin, dan banyak amalan lainnya.

Tata Cara Puasa Idul Adha

Selanjutnya, bagaimana cara menjalankan ibadah puasa ini? Untuk melaksanakannya dengan baik, dapat mengikuti tata cara berikut yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pelaksanaan puasa Ramadan, yaitu:

  1. Sahur dilakukan pada waktu yang tepat, yaitu sebelum salat Subuh.
  2. Membaca niat puasa Idul Adha yang sesuai dengan jenis puasanya, baik itu puasa Tarwiyah atau puasa Arafah, sesuai dengan tanggal yang berlaku dalam bulan Dzulhijjah.
  3. Puasa dilaksanakan dari terbit fajar hingga matahari terbenam.
  4. Menahan haus, lapar, dan menjauhkan diri dari perbuatan yang bisa membatalkan puasa.
  5. Saat tiba waktu berbuka, yaitu saat Salat Maghrib, dapat segera membatalkan puasa dengan berbuka dan membaca doa buka puasa.

Tata cara pelaksanaan puasa Idul Adha ini sebagian besar mirip dengan puasa umat Islam pada umumnya. Hal yang menarik adalah bahwa waktu ini dapat digunakan untuk melakukan qadha puasa Ramadan yang belum diganti, sehingga dapat memperoleh dua keutamaan sekaligus, yaitu puasa Ramadan yang diganti dan puasa Hari Raya Idul Adha.

Namun, perlu diingat bahwa setelah masuk ke hari raya Idul Adha, yaitu tanggal 10 Dzulhijjah, diharamkan untuk berpuasa. Bahkan, beberapa hari setelahnya, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah, termasuk dalam periode hari tasyrik yang juga diharamkan untuk berpuasa.

Hal-Hal yang Membatalkan Puasa Idul Adha

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, setelah membaca niat puasa Idul Adha, penting untuk menahan diri dari lapar, haus, dan tindakan-tindakan yang dapat membatalkan puasa. Apa saja yang dapat membatalkan puasa ini? Berikut adalah poin-poinnya:

  • Makan atau minum dengan sengaja dan kesadaran penuh.
  • Memasukkan obat atau benda melalui dua lubang tubuh atau dua jalur.
  • Muntah secara sengaja.
  • Melakukan hubungan suami-istri (berjima') di siang hari.
  • Keluarnya air mani karena syahwat.
  • Haid dan nifas.
  • Kehilangan kesadaran atau gila.
  • Murtad (keluar dari agama Islam).

Jika tindakan-tindakan seperti ini dilakukan saat berpuasa, maka puasa tersebut akan menjadi batal dan tidak sah. Tentu saja, akan disayangkan jika puasa yang telah dijalankan menjadi batal karena tindakan-tindakan tersebut di atas.

Bagaimana dengan orang yang berkurban? Apakah mereka juga diwajibkan untuk menjalankan ibadah sunnah seperti puasa Idul Adha? Bagi orang yang berkurban, sangat dianjurkan untuk menjalankan ibadah sunnah ini, sehingga pahala yang mereka peroleh akan berlipat ganda.

Selain mendapatkan keutamaan dari puasa sunnah dua hari sebelum Hari Raya Haji, orang yang berkurban juga dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hal ini karena berkurban saja merupakan tindakan yang memungkinkan seseorang untuk lebih bertaqwa kepada Allah SWT.

Ketika membaca niat puasa Idul Adha, tetaplah berpegang pada prinsip untuk melaksanakan sunnah dan mendapatkan pahala dari Allah SWT.

Itulah penjelasan mengenai niat puasa Idul Adha, semoga bermanfaat.👀

Posting Komentar untuk "Bagaimana Niat Puasa Idul Adha?"