Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Anak Nabi Muhammad Yang Menikah Beda Agama

kisah anak nabi muhammad yang menikah beda agama

Kisah Anak Nabi Muhammad Yang Menikah Beda Agama

Patimon.site - Pernikahan beda agama memiliki sejarah yang panjang, bahkan sudah terjadi sejak zaman Rasulullah SAW. Kisah cinta ini melibatkan putri sulung Rasulullah SAW dan Khadijah, yaitu Zainab binti Muhammad bin Abdillah.

Zainab lahir ketika Nabi Muhammad SAW berusia 30 tahun. Seiring berjalannya waktu, Zainab tumbuh menjadi seorang wanita yang siap menikah. Pada saat itu, dia dipinang oleh seorang pria bernama Abu al As bin Rabi'.

Abu al As adalah putra dari bibi ibunda Zainab yang bernama Halah binti Khuwalid. Pinangan ini diterima, dan Zainab pun menikah dengan Abu al As. Dari pernikahan mereka, lahirlah dua orang anak, yaitu Ali dan Umamah.

Penting untuk diketahui bahwa pernikahan Zainab ini terjadi sebelum Nabi Muhammad diangkat menjadi Rasul. Ketika Nabi menerima wahyu Islam, Zainab adalah salah satu dari yang pertama memeluk agama baru ini.

Sayangnya, suami Zainab tetap kesulitan untuk meninggalkan agama leluhurnya, yang menyebabkan pernikahan mereka sulit dipertahankan. Zainab tetap teguh pada Islam, sementara Abu al As tetap memilih agamanya sendiri.

Abu al As kemudian bergabung dengan tentara Quraisy yang melawan Rasulullah SAW. Saat terlibat dalam perang Badar, Abu al As tertangkap dan menjadi tawanan umat Islam. Situasinya menjadi tegang karena orang tahu bahwa Abu al As adalah menantu Rasulullah SAW yang sekarang menjadi tawanan perang.

Dalam situasi yang penuh ketegangan ini, kaum Quraisy yang kafir mengirim utusan untuk menukarkan Abu al As dengan tawanan lain. Zainab tetap setia pada suaminya dan mengirimkan kalung pernikahan sebagai tebusan. Peristiwa ini menunjukkan betapa Zainab sangat mencintai Abu al As, bahkan membuat hati Nabi Muhammad tersentuh. Ketika Rasulullah melihat kalung Zainab, yang merupakan hadiah dari Khadijah, ia merasa iba.

"Wahai kaum Muslimin, jika kalian dapat melepaskan tawanan bernama Abu al As bin Rabi' serta mengembalikan tebusannya kepada Zainab, maka silakan kalian melakukannya," demikian Rasulullah bersabda, dikutip dari buku 25 Perempuan Teladan (Para Istri, Putri, & Sahabat Perempuan Nabi saw.), karya Hj. Umma Farida Lc., MA.

Mendengar ucapan Rasulullah, umat Islam yang terlibat dalam perang akhirnya melepaskan tawanannya, yang tidak lain adalah Abu al As. Suami Zainab pun dibebaskan, dan tebusan dikembalikan. Namun, Rasulullah memberikan syarat kepada Abu al As setelah pembebasannya.

Rasulullah meminta agar Abu al As harus bercerai dengan Zainab. Tetapi, ia diperbolehkan tetap bersama Zainab jika ia memilih untuk memeluk Islam. Sayangnya, Abu al As tetap teguh pada agama nenek moyangnya, sehingga harus berpisah dari Zainab.

Setelah dibebaskan, Abu al As kembali ke Makkah, dan dengan rela hati, ia mengantarkan Zainab kepada ayahnya, Rasulullah, di Madinah. Kinanah bin Rabi', saudara kandung Abu al As, yang membawanya.

Di tengah perjalanan mereka, mereka diserang oleh kelompok Quraisy yang dipimpin oleh Hubar bin Aswad dan Nafi' ibn Abdulqais. Hubar mendorong Zainab dari unta, meskipun saat itu Zainab sedang hamil, dan akibatnya, dia mengalami pendarahan dan keguguran.

Setelah kejadian itu, Zainab dan Abu al As resmi berpisah. Abu al As tetap tinggal di Makkah, sementara Zainab pindah ke Madinah. Kedua belah pihak sangat bersedih atas perpisahan mereka.

Ketika Abu al As hendak kembali ke Makkah, dalam perjalanan, ia bertemu dengan pasukan Rasulullah. Mereka meminta semua harta yang dibawa oleh Abu al As, dan dengan rela hati, ia menyerahkan semua harta tersebut, termasuk harta milik orang lain yang dibawanya.

Selama enam tahun, Zainab tinggal bersama Rasulullah di Madinah, dan selama waktu itu, ia terus berdoa agar Allah memberikan petunjuk kepada suaminya untuk menerima Islam. Hingga suatu saat, pada bulan Jumadil Ula tahun 6 Hijriah, Abu al As pergi berdagang ke negeri Syam.

Abu al As tidak bisa mengembalikan amanat yang telah diberikan kepadanya. Semua harta dagang telah habis, sementara para pemilik dagangan menunggu kepulangannya dengan harapan. Dalam keadaan sedih, dia teringat pada Zainab, yang sangat mencintai dan setia padanya.

Abu al As menyelinap ke dalam Madinah pada malam hari secara diam-diam. Dia meminta Zainab untuk memberikan perlindungan padanya dan membantunya mengembalikan harta tersebut. Zainab dengan baik hati memberikan perlindungan kepada mantan suaminya.

Pada waktu subuh, umat Islam pergi ke masjid. Rasulullah mengumandangkan takbir, dan seluruh umat Islam pun ikut bertakbir bersama Beliau. Tiba-tiba, dari balik dinding terdengar suara yang mengatakan, "Hai orang-orang, sesungguhnya aku telah melindungi Abu al As. Dia sekarang berada dalam perlindungan dan pengamananku," kata Zainab.

Setelah salat, Rasulullah segera berbicara kepada para jamaah, "Wahai kaum Muslimin, adakah kalian mendengar suara seperti yang saya dengar? Zainab adalah orang yang paling pantas memberikan perlindungan kepadanya."

Kemudian Rasulullah mendatangi Zainab dan memberikan pesan, "Wahai putriku, hormatilah kedudukan Abu al As. Baginya tidak ada jalan untuk lepas begitu saja, dan kamu sama sekali tidak halal baginya selama dia masih memeluk agama yang berbeda."

Pada tahun berikutnya, pada tahun 7 Hijriah, Abu al As kembali ke Madinah setelah memeluk Islam dan menjadi seorang Muhajir. Mereka dipersatukan kembali dalam ikatan pernikahan yang sesuai dengan ajaran Islam.

Melihat kesetiaan Zainab yang telah lama berpisah dengan suaminya, Rasulullah sangat kagum. Zainab telah memutuskan syahwat terhadapnya demi memenuhi perintah Allah. Dia tetap bersikap baik dan setia dalam memberikan pertolongan kepada suaminya.

Zainab kemudian meninggal dunia pada tahun 8 Hijriah. Zainab adalah contoh teladan yang indah, menunjukkan kesetiaan seorang istri pada suaminya, ketulusan dalam cinta, dan keteguhan dalam iman.

Itulah kisah anak Nabi Muhammad SAW yang menikah beda agama, semoga bermanfaat.👀

Posting Komentar untuk "Kisah Anak Nabi Muhammad Yang Menikah Beda Agama"