Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Bilal Bin Rabah Setelah Wafatnya Rasulullah

Bilal Bin Rabah

Kisah Bilal Bin Rabah Setelah Wafatnya Rasulullah

Patimon.site - Semua orang tahu bahwa pada zaman Nabi, setiap kali waktu shalat tiba, yang mengumandangkan adzan adalah Bilal bin Rabah. Bilal dipilih karena suara merdunya yang khas. Pria keturunan Afrika ini memiliki suara yang indah. Posisinya tak tergantikan selama Nabi hidup, kecuali dalam situasi tertentu seperti perang atau saat Nabi keluar kota. Bilal selalu bersama Nabi ke mana pun beliau pergi. Namun, setelah Nabi wafat pada awal 11 Hijrah, Bilal memutuskan untuk tidak lagi mengumandangkan adzan.

Khalifah Abu Bakar Ra. berusaha membujuknya untuk kembali menjadi muadzin, tetapi Bilal menolak dengan pilu. Dia berkata, "Biarkan aku hanya menjadi muadzin Nabi. Nabi telah tiada, maka aku bukan muadzin siapa-siapa lagi." Meskipun Abu Bakar terus mendesaknya, Bilal bertanya apakah Abu Bakar pernah membebaskannya dari siksaan Umayyah bin Khalaf karena Allah atau karena dirinya sendiri. Abu Bakar hanya terdiam. Bilal bersedia menjadi muadzin jika pembebasannya dulu karena diri Abu Bakar, tetapi jika itu dilakukan karena Allah, dia ingin mempertahankan keputusannya. Akhirnya, Abu Bakar tidak bisa lagi memaksa Bilal untuk kembali mengumandangkan adzan.

Kesedihan karena kehilangan Nabi terus bersemayam di hati Bilal. Akhirnya, dia meninggalkan Madinah dan bergabung dengan pasukan Fath Islamy menuju Syam, di mana dia tinggal di Homs, Suriah. Bilal tidak mengunjungi Madinah selama beberapa tahun. Namun, dalam mimpi, Nabi Saw. datang kepada Bilal dan menegurnya, meminta dia untuk mengunjungi Madinah. Bilal segera mempersiapkan perjalanan ke Madinah setelah mimpi itu.

Setibanya di Madinah, Bilal dengan sedih melepaskan rasa rindunya kepada Nabi Saw, sang kekasih. Saat itu, dua cucu Nabi Saw., Hasan dan Husein, mendekatinya. Dengan mata berkaca-kaca, Bilal memeluk kedua cucu Nabi Saw. Salah satu dari mereka meminta Bilal untuk mengumandangkan adzan sekali saja untuk mengenang kakek mereka. Umar bin Khattab, yang telah menjadi Khalifah saat itu, juga meminta hal yang sama.

Bilal menyetujui permintaan mereka. Saat tiba waktu shalat, dia naik ke tempat di mana dia biasa mengumandangkan adzan saat Nabi Saw. masih hidup. Saat dia mengumandangkan adzan, seluruh Madinah menjadi sunyi, semua aktivitas berhenti, dan semua terkejut. Suara yang telah hilang begitu lama, suara yang begitu merindukan sosok agung itu telah kembali. Ketika Bilal berteriak "Asyhadu an laa ilaha illallah," seluruh penduduk Madinah berbondong-bondong menuju suara itu sambil menangis, bahkan para wanita dalam purdah keluar.

Ketika Bilal mengumandangkan "Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah," Madinah dipenuhi dengan tangisan dan ratapan yang mengharukan. Semua orang menangis, teringat akan saat-saat indah bersama Nabi. Umar bin Khattab bahkan menangis dengan keras. Bahkan Bilal sendiri tidak bisa melanjutkan adzan, lidahnya tercekat oleh air mata. Pada hari itu, Madinah mengenang masa-masa ketika Nabi Saw. masih hidup. Tidak ada pribadi agung yang lebih dicintai daripada Nabi Saw. Adzan ini adalah adzan pertama dan terakhir yang dinyanyikan oleh Bilal sejak wafatnya Nabi. Dia tidak pernah setuju untuk mengumandangkan adzan lagi, karena kesedihan yang melanda hatinya saat mengenang sosok yang telah meninggikan derajatnya. Semoga kita dapat merasakan nikmatnya rindu dan cinta seperti yang dianugerahkan Allah kepada Sahabat Bilal bin Rabah RA. Aamiin.

Itulah kisah bilal bin Rabah setelah wafatnya Rasulullah, semoga bermanfaat.👀

Posting Komentar untuk "Kisah Bilal Bin Rabah Setelah Wafatnya Rasulullah"