Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Cucu Nabi Muhammad Yang Dipenggal Kepalanya

kisah cucu nabi muhammad yang dipenggal kepalanya

Kisah Cucu Nabi Muhammad Yang Dipenggal Kepalanya

Patimon.site - Salah satu cucu Rasulullah SAW dikisahkan tidak mendapatkan kain kafan yang dibawa oleh Malaikat Jibril. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa cucu Rasulullah SAW tersebut akan meninggal dalam keadaan syahid di medan perang.

Informasi ini dilansir dari detikHikmah, yang mengisahkan tentang kain kafan dari surga yang dibawa oleh Malaikat Jibril untuk Rasulullah SAW dan orang-orang yang sangat dicintainya. Mereka meliputi istri pertama Rasulullah SAW, Khadijah RA, putri Rasulullah SAW, Fatimah Az-Zahra, menantu Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib, dan cucu Rasulullah SAW yang bernama Hasan.

Namun, cucu Rasulullah SAW yang bernama Husain tidak menerima kain kafan tersebut. Informasi ini didasarkan pada kisah yang disampaikan dalam buku "Mulut yang Terkunci: 50 Kisah Haru Para Sahabat Nabi" karya Siti Nurlaela. Husain adalah saudara kandung dari Hasan, dan keduanya merupakan anak dari Fatimah Az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib.

Kisah Akhir Hayat Husain yang Mati Syahid

Dalam buku yang sama, diceritakan bahwa Sayyidina Husain dihadapkan pada ujian yang sangat berat. Orang-orang yang sangat ia cintai satu per satu kembali kepada Allah SWT.

Kakeknya, Rasulullah SAW, wafat karena sakit. Ibunya, Fatimah Az-Zahra, juga meninggal karena penyakit. Sementara ayahnya, Ali bin Abi Thalib, tewas terbunuh saat sedang menjalankan salat subuh. Bahkan kakaknya, Hasan bin Ali, gugur sebagai syuhada.

Namun, Sayyidina Husain menjalani semua ujian ini dengan penuh kesabaran.

Dikisahkan bahwa ketika Yazid bin Mu'awiyyah diangkat menjadi khalifah, Sayyidina Husain dan banyak kaum Muslim tidak menyetujuinya. Hal ini dikarenakan Yazid dikenal sebagai sosok yang korup, peminum khamar, dan menghibur dirinya dengan hewan-hewan seperti monyet dan anjing-anjingnya.

Namun, Yazid menduduki posisinya sebagai khalifah karena mewarisi jabatan tersebut dari ayahnya, Mu'awiyyah bin Abu Sufyan. Hal ini bertentangan dengan prinsip-prinsip yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Ketika berada di Makkah, Sayyidina Husain menerima banyak surat dari penduduk Kufah. Surat-surat ini berisi dukungan mereka kepada Sayyidina Husain, meminta bantuan darinya, dan mengundangnya untuk datang ke Kufah serta mengangkatnya menjadi khalifah.

Saat itu, Sayyidina Husain berada di Madinah dan dia juga menolak bersumpah setia kepada Yazid karena perilaku buruk yang diketahui banyak orang.

Akhirnya, Sayyidina Husain mengirimkan saudara sepupunya, Muslim bin Aqil, ke Kufah sebagai utusan atau wakilnya. Ia meminta Muslim bin Aqil untuk tinggal bersama orang-orang yang paling setia di Kufah.

Akhirnya, Muslim bin Aqil tinggal bersama Al Mukhtar, dan berita kedatangannya tersebar di antara penduduk Kufah. Orang-orang berkumpul di sekitar rumah Al Mukhtar untuk bertemu utusan Sayyidina Husain dan bersedia mendukung pemerintahan yang diberkahi. Namun, semuanya ternyata hanya tipuan belaka.

Menurut buku "Sejarah Agung Hasan dan Husain" karya Ukasyah Habibu Ahmad, Sayyidina Husain tetap pada pendiriannya untuk pergi ke Kufah. Setelah tiba di daerah Bathnur Rummah, ia mengirim surat kepada penduduk Kufah untuk memberitahukan bahwa ia telah sampai di Bathnur Rummah.

Sayyidina Husain mengutus Qais bin Mashar as-Saidawi untuk tugas tersebut, namun malangnya, Qais bin Mashar as-Saidawi ditangkap oleh pasukan Ubaidillah bin Ziyad dan kemudian dihilangkan nyawanya. Sayyidina Husain melanjutkan perjalanannya hingga mencapai Zarud.

Saat hendak meninggalkan wilayah tersebut, Sayyidina Husain baru mendapatkan kabar bahwa Muslim bin Aqil dan Hani' bin Urwah telah tewas. Selain itu, ia juga mengetahui tentang pengkhianatan yang dilakukan oleh penduduk Kufah.

Menyadari situasi yang semakin berbahaya, Sayyidina Husain memutuskan untuk kembali. Namun, menurut laporan dari Al-Akhbar ath-Thiwal, anggota keluarga bani Aqil menyatakan, "Bagi kami, tidak ada artinya hidup setelah kematian Muslim bin Aqil. Kami tidak akan pulang sampai kami mati."

Sayyidina Husain kemudian memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, memberikan pilihan kepada para pengikutnya apakah mereka ingin pulang atau tetap bersamanya. Ketika mereka mencapai Zubalah, mereka bertemu dengan Umar bin Sa'ad dan Ibnul Asy'ats yang membawa surat dari Muslim bin Aqil. Isi surat tersebut mengungkapkan ketidakpedulian penduduk Kufah terhadap Sayyidina Husain.

Meskipun mereka sempat dihadang oleh al-Hurru bi Yazid at-Tamimi atas perintah Ubaidillah bin Ziyad, Sayyidina Husain akhirnya tiba di Karbala pada tanggal 2 Muharram 61 H. Kedatangannya disambut dengan dingin oleh penduduk setempat yang konon berjumlah sekitar 100.000 orang yang sebelumnya menyatakan janji setia kepada Sayyidina Husain. Sayangnya, kekhawatiran yang dirasakan oleh keluarga dan sahabat Sayyidina Husain ternyata terbukti benar.

Dalam buku yang sama, akhirnya Sayyidina Husain beserta rombongannya dikepung selama beberapa hari, tepat pada tanggal 10 Muharram 61 H. Serangan dilakukan oleh sekitar 5.000 pasukan yang dipimpin oleh Umar bin Sa'ad bin Abi Waqash.

Tujuan pengepungan ini adalah atas perintah Ubaidillah bin Ziyad untuk memaksa Sayyidina Husain mengakui kekuasaan Khalifah Yazid bin Mu'awiyyah.

Menurut catatan sejarah, rombongan Sayyidina Husain terdiri dari hanya 72 orang, yang terdiri dari 32 prajurit berkuda dan 40 pejalan kaki. Selebihnya adalah anak-anak dan perempuan. Dengan perbandingan pasukan yang sangat tidak seimbang, pasukan Sayyidina Husain akhirnya mengalami kekalahan telak.

Dalam pertempuran tersebut, hanya Sayyidina Husain dan sebagian kecil keluarganya yang tersisa, yang terdiri dari wanita dan anak-anak.

Ibnu Katsir dalam Kitab Al-Bidayah wan Nihayah mengisahkan, pada 10 Muharram pasukan Ubaidillah bin Ziyad memukul kepala Sayyidina Husain dengan pedang hingga berdarah. Lalu, Sayyidina Husain membalut luka di kepalanya dengan merobek kain jubahnya.

Dengan cepat, balutan kain terlihat penuh dengan darah. Saat itu ada pula dengan teganya melepaskan panah dan mengenai leh*r Sayyidina Husain. Namun, ia masih hidup sambil memegangi lehernya ia menuju ke arah sungai karena kehausan

Kemudian, pasukan tersebut terus mengepung Sayyidina Husain dan tidak memberinya kesempatan untuk minum. Ibnu Katsir juga mencatat bahwa orang yang membunuh Sayyidina Husain dengan tombak adalah Sina bin Anas bin Amr Nakhai, yang kemudian menggor*k leher Sayyidina Husain dan menyerahkannya kepada Khawali bin Yazid.

Tentang waktu kematian Sayyidina Husain, para ulama memiliki perbedaan pendapat. Akan tetapi, mayoritas sepakat bahwa Sayyidina Husain meninggal pada hari Asyura bulan Muharram tahun 61 H. Ibnu Hajar al-Asqalani juga memastikan bahwa usia Sayyidina Husain saat wafat adalah 56 tahun.

Dalam bukunya "Mahar Bidadari Surga," Rizem Aizid menjelaskan tentang mati syahid seperti yang dialami oleh Sayyidina Husain. Bagi para muslim yang gugur dalam pertempuran dan berjuang tanpa tujuan yang lain, mereka dianggap sebagai pejuang jihad fisabilillah.

Oleh karena itu, bagi mereka yang mati syahid, jenazah mereka tidak perlu dimandikan, tidak perlu diberi kain kafan, dan tidak perlu disalatkan. Cukup dengan menguburkannya dengan pakaian yang masih lengkap seperti yang dikenakan saat berjuang di jalan Allah.

Karena Sayyidina Husain meninggal dalam status syahid seperti ini, maka ia tidak menerima kain kafan yang dibawa oleh Malaikat Jibril, sehingga ia menjadi satu-satunya cucu Nabi Muhammad SAW yang tidak mendapatkan kain kafan dari Malaikat Jibril.

Itulah kisah cucu nabi muhammad yang dipenggal kepalanya, semoga informasi ini bermanfaat.❤️

Posting Komentar untuk "Kisah Cucu Nabi Muhammad Yang Dipenggal Kepalanya"