Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Rasul Mencium Tangan Tukang Batu

Kisah Rasul Mencium Tangan Tukang Batu

Kisah Rasul Mencium Tangan Tukang Batu

Patimon.site - Pada saat itu, Rasulullah baru saja kembali dari Tabuk, di mana ia bersama para sahabatnya berperang melawan bangsa Romawi yang sering mengancam umat Islam. Hampir semua sahabat ikut serta dalam peperangan ini, kecuali mereka yang tidak mampu atau terhalang untuk berangkat.

Saat Rasulullah mendekati kota Madinah, dia bertemu dengan seorang tukang batu di sisi jalan. Melihat tangan buruh tukang batu itu yang kasar dan melepuh, kulitnya merah kehitam-hitaman akibat terpapar sinar matahari, Rasulullah bertanya, "Mengapa tanganmu begitu kasar?"

Tukang batu itu menjawab, "Ya Rasulullah, saya setiap hari membelah batu dan menjualnya di pasar. Hasilnya saya gunakan untuk memberi nafkah keluarga saya, itulah sebabnya tangan saya menjadi kasar."

Meskipun Rasulullah adalah manusia paling mulia, dia tetap menghormati tangan tukang batu yang kasar akibat mencari nafkah yang halal. Rasulullah menggenggam tangan tukang batu itu dan menciumnya seraya berkata, "Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka selama-lamanya."

Rasulullah tidak pernah mencium tangan para pemimpin Quraisy, pemimpin Khabilah, raja, atau siapapun. Hanya putrinya, Fatimah Az Zahra, dan tukang batu itulah yang pernah dicium olehnya. Yang menarik, tangan yang dicium oleh Rasulullah adalah tangan yang melepuh dan kasar akibat kerja keras membelah batu.

Suatu hari, seorang laki-laki yang dikenal sebagai pekerja giat dan tangkas melintas di depan Rasulullah. Para sahabat mengatakan, "Wahai Rasulullah, kalau bekerja seperti yang dilakukan orang itu dianggap sebagai jihad di jalan Allah (Fi sabilillah), itu akan sangat baik." Mendengar itu, Rasulullah menjawab, "Jika dia bekerja untuk menyokong anak-anaknya yang masih kecil, itu adalah jihad di jalan Allah. Jika dia bekerja untuk menyokong kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia, itu juga adalah jihad di jalan Allah. Jika dia bekerja untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, itu pun adalah jihad di jalan Allah." (HR Thabrani)

Orang-orang yang malas bekerja sebenarnya tidak menyadari bahwa mereka telah kehilangan sebagian harga diri mereka dan kehidupan mereka menjadi stagnan. Rasulullah sangat prihatin terhadap orang-orang yang malas bekerja.

”Maka apabila telah dilaksanakan shalat, bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (QS. Al-Jumu’ah 10)

”Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi ini”. (QS Nuh19-20)

”Siapa saja pada malam hari bersusah payah dalam mencari rejeki yang halal, malam itu ia diampuni”. (HR. Ibnu Asakir dari Anas)

”Siapa saja pada sore hari bersusah payah dalam bekerja, maka sore itu ia diampuni”. (HR. Thabrani dan lbnu Abbas)

”Tidak ada yang lebih baik bagi seseorang yang makan sesuatu makanan, selain makanan dari hasil usahanya. Dan sesungguhnya Nabiyullah Daud, selalu makan dan hasil usahanya”. (HR. Bukhari)

”Sesungguhnya di antara dosa-dosa itu, ada yang tidak dapat terhapus dengan puasa dan shalat”. Maka para sahabat pun bertanya: “Apakah yang dapat menghapusnya, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: ”Bersusah payah dalam mencari nafkah.” (HR. Bukhari)

”Barangsiapa yang bekerja keras mencari nafkah untuk keluarganya, maka sama dengan pejuang dijalan Allah ‘Azza Wa Jalla”. (HR. Ahmad)

Itulah kisah rasul mencium tangan tukang batu, semoga bermanfaat.👀

Posting Komentar untuk "Kisah Rasul Mencium Tangan Tukang Batu"