Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Tsabit Memakan Apel Yang Jatuh Diluar Pagar

Kisah Tsabit Memakan Apel Yang Jatuh Diluar Pagar

Kisah Tsabit Memakan Apel Yang Jatuh Diluar Pagar

Patimon.site - Seorang pria saleh bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba, dia melihat sebuah apel jatuh dari pagar sebuah kebun buah. Melihat apel merah marun itu tergeletak di tanah membuatnya merasa haus, terutama di hari yang panas.

Tanpa berpikir panjang, Tsabit mengambil dan memakan setengah buah apel tersebut. Namun, setelahnya, dia ingat bahwa buah itu bukan miliknya dan dia belum mendapat izin dari pemiliknya.

Maka, Tsabit pergi ke dalam kebun buah-buahan itu untuk menemui pemiliknya dan meminta izin atas buah yang telah dimakannya. Di sana, ia bertemu dengan seorang pria yang menjelaskan bahwa dia adalah pengurus kebun tersebut, bukan pemiliknya.

Dengan penyesalan, Tsabit bertanya lagi, "Di mana rumah pemiliknya? Aku akan menemuinya dan meminta izin untuk buah yang telah kumakan ini." Pengurus kebun memberitahu Tsabit bahwa pemiliknya berada jauh, memerlukan perjalanan sehari semalam.

Tsabit dengan tekad yang kuat memutuskan untuk pergi menemui pemilik kebun itu. Dia mengatakan, "Tidak masalah, aku akan pergi meskipun jauh. Aku telah memakan buah ini tanpa izin pemiliknya. Bukankah Rasulullah s.a.w. telah mengingatkan kita bahwa 'Siapa yang tubuhnya tumbuh dari yang haram, maka ia lebih layak menjadi umpan api neraka'?"

Tsabit akhirnya tiba di rumah pemilik kebun itu dan meminta izin atas buah yang telah dimakannya. Pemilik rumah membuka pintu dan Tsabit memberi salam dengan sopan, sambil meminta izin.

Lelaki tua itu kemudian menyatakan bahwa dia hanya akan mengizinkan Tsabit jika dia setuju dengan satu syarat: Tsabit harus menikahi putrinya. Tsabit bingung dengan syarat tersebut, namun pemilik kebun bersikeras.

Tsabit bertanya, "Hanya karena aku makan setengah apelmu, aku harus menikahi putrimu?" Pemilik kebun tidak mengubah pendiriannya dan menjelaskan bahwa putrinya memiliki beberapa kekurangan, seperti buta, bisu, tuli, dan lumpuh.

Meskipun terkejut, Tsabit setuju dengan syarat tersebut. Dia berpikir bahwa dia akan menjalani pernikahan ini dengan niat baik dan mengharap ridha Allah.

Pernikahan dilaksanakan, dan Tsabit memasuki kamar pengantin dengan isterinya yang memiliki kekurangan yang dijelaskan oleh ayahnya. Namun, Tsabit terkejut saat mendapati bahwa isterinya bisa menjawab salamnya dan menyambutnya dengan baik.

Tsabit bertanya mengenai kekurangan-kekurangan yang disebutkan ayahnya, dan isterinya menjelaskan bahwa dia mengartikannya secara metaforis. Dia buta terhadap yang haram, bisu terhadap gosip dan fitnah, tuli terhadap perkataan yang merugikan, dan lumpuh dalam melakukan dosa.

Tsabit merasa sangat bahagia mendapatkan isteri yang salehah, dan mereka hidup bahagia bersama. Tak lama kemudian, mereka diberkahi dengan seorang putra yang kelak menjadi Al Imam Abu Hanifah An Nu'man bin Tsabit, seorang ulama terkenal.

Itulah kisah tsabit memakan apel yang jatuh diluar pagar, semoga bermanfaat.👀


Posting Komentar untuk "Kisah Tsabit Memakan Apel Yang Jatuh Diluar Pagar"