Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Umar Dan Gubernur Mesir

Kisah Umar Dan Gubernur Mesir

Kisah Umar Dan Gubernur Mesir

Patimon.site - Setelah tidak lagi bergabung dengan tentara Muslimin, Amr bin Ash dipercayai oleh Khalifah Umar bin Khattab untuk menjadi gubernur Mesir. Menjadi pemimpin umat Islam di sana, serta berdakwah mengajak siapa pun untuk beriman kepada Allah SWT.

Amr bin Ash tinggal di dalam istana yang megah, dilengkapi dengan berbagai kenikmatan dan jaminan keamanan sepanjang waktu. Namun, kemegahan istananya tersebut berbeda sekali dengan gubuk kecil dan reyot yang berada tidak jauh dari depan istananya.

Dalam buku kisah keadilan para pemimpin Islam yang ditulis oleh Nasiruddin, diceritakan bahwa suatu saat Amr memutuskan untuk menggusur gubuk tersebut dan menggantinya dengan membangun sebuah masjid agung. Hal ini dimaksudkan untuk menciptakan keseimbangan antara istana sebagai simbol kehidupan dunia dan masjid sebagai upaya untuk mencapai kebahagiaan akhirat.

Kemudian, Amr mengumpulkan semua pejabatnya untuk membahas kemungkinan pembangunan masjid impian itu. Dalam rapat tersebut, Amr mendapat informasi bahwa gubuk reyot di depan istananya adalah milik keluarga Yahudi miskin. Informasi ini justru semakin memperkuat keinginan Amr untuk segera meletakkan batu pertama dalam pembangunan masjid.

Esok harinya, Amr memanggil orang Yahudi yang tinggal di gubuk tersebut ke istana. Setibanya di istana, Amr kemudian menjelaskan maksudnya untuk membangun masjid di atas tanah tempat gubuk milik orang Yahudi tersebut berdiri. Sebagai gantinya, Amr bersedia membeli tanah itu dengan harga yang telah disepakati.

Namun, ketika mendengar rencana tersebut, orang Yahudi menolak permintaan sang gubernur dengan tegas. Dengan lantang, dia menolak untuk melepaskan tanahnya, meskipun ditawari berpuluh kali lipat harganya. Sambil meninggalkan istana, orang Yahudi tetap pada pendiriannya untuk tidak melepaskan satu-satunya harta yang dimilikinya.

Sebagai gubernur, Amr tidak mempertimbangkan pendirian orang Yahudi yang tetap kukuh. Ia segera mengeluarkan surat keputusan untuk membongkar gubuk keluarga Yahudi miskin tersebut. Amr mengklaim bahwa pembongkaran ini dilakukan demi kepentingan yang lebih besar bagi kaum Muslimin di Mesir.

Ketika keluarga Yahudi yang sedang tidur di gubuk mereka melihat sejumlah tentara kerajaan mendekat, mereka terkejut. Salah satu prajurit dengan suara tinggi mengatakan, "Atas perintah gubernur, kami ingin membongkar gubuk ini secara paksa untuk membuatnya menjadi masjid."

Keluarga Yahudi menangis tanpa henti, merasa tak berdaya saat melihat tempat tinggal satu-satunya harus dirobohkan. Mereka hanya bisa membayangkan saat-saat bahagia mereka akan berakhir hanya dalam hitungan menit.

Namun, di tengah kesedihan mereka, seorang Yahudi tiba-tiba teringat Khalifah Umar bin Khattab, pemimpin tertinggi umat Islam, yang berada di Madinah. Tanpa berpikir panjang, ia memutuskan untuk pergi ke Madinah untuk mencari keadilan terkait keputusan Gubernur Amr.

Selama perjalanan, orang Yahudi merasa kecil hati ketika membayangkan bertemu dengan Khalifah Umar. Dia merasa pesimis bahwa dirinya, yang berpakaian lusuh dan compang-camping, akan disambut dengan baik di Madinah, terutama karena keluhannya akan didengar oleh seorang tokoh besar Muslimin. Meskipun penuh kekhawatiran, orang Yahudi tetap melanjutkan perjalanan ke Madinah untuk mencari keberuntungan dan keadilan.

Setibanya di Madinah, semua ketakutannya tidak terwujud. Khalifah Umar menyambutnya dengan ramah seperti tamu kenegaraan. Pelayanan makanan dan minuman yang beragam menunjukkan betapa besar penghormatan Khalifah kepada tamu tersebut, meskipun dia menyadari bahwa tamunya bukan seorang Muslim.

Sambil menikmati hidangan, orang Yahudi menceritakan masalahnya kepada Khalifah Umar. Saat percakapan berakhir, Umar meminta orang Yahudi untuk mengambil sepotong tulang busuk yang tergeletak di dekatnya. Dengan ragu, orang Yahudi menuruti permintaan Umar.

Kemudian, Umar mengambil pedang dari sarungnya dan menggoreskan garis lurus pada tulang busuk itu. "Bawa tulang busuk ini kembali ke Mesir dan berikan kepada gubernurmu, Amr bin Ash," kata Umar sambil memberikan tulang busuk tersebut kepada orang Yahudi. Dengan kebingungan, orang Yahudi hanya mengikuti instruksi Umar dan kembali ke Mesir.

Sesampainya di Mesir, ia segera menyerahkan tulang busuk tersebut kepada Gubernur Amr. Namun, Amr bin Ash, setelah melihat goresan lurus pada tulang busuk itu, menjadi sangat takut dan gemetar. Ia segera memerintahkan untuk menghentikan pembangunan masjid yang sedang berlangsung.

Orang Yahudi yang bingung segera bertanya kepada Amr tentang makna tulang busuk tersebut sebelum masjid dirobohkan.

"Tulang ini adalah ancaman dari Khalifah," jelas Amr. "Amr bin Ash, ingatlah bahwa siapapun kamu dan seberapa tinggi jabatanmu, suatu saat kamu akan menjadi seperti tulang busuk ini. Oleh karena itu, bertindaklah dengan adil seperti huruf alif yang tegak lurus, adil di atas dan adil di bawah. Jika tidak, aku akan memutuskan lehermu," tegasnya.

Orang Yahudi tersebut kemudian merasa terharu dan kagum akan sikap kepemimpinan Khalifah Umar dan keadilannya yang tak kenal kompromi. Dengan tulus hati, ia menyumbangkan tanahnya untuk membangun masjid. Tak lama setelah itu, dia memeluk Islam sebagai tanda keyakinannya.

Itulah Kisah umar dan gubernur Mesir, semoga bermanfaat.👀

Posting Komentar untuk "Kisah Umar Dan Gubernur Mesir"