Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Yang Dialami Siti Aminah Menjelang Kelahiran Nabi Muhammad SAW

kisah yang dialami siti aminah menjelang kelahiran nabi muhammad saw

Kisah Yang Dialami Siti Aminah Menjelang Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Patimon.site - Pada tanggal 12 Rabiul Awal, Aminah binti Wahb melahirkan seorang putra yang sangat dihormati oleh umat Islam, yaitu Nabi Muhammad SAW. Sebelum kelahirannya, terjadi peristiwa yang sangat istimewa.

Peristiwa ini diceritakan oleh Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam karyanya tentang Sirah Nabawiyah, dengan merujuk pada riwayat Abdullah bin Ja'far. Konon, ketika Siti Aminah mengandung Nabi Muhammad SAW, ia mengalami pengalaman yang luar biasa. Ia melihat sebuah cahaya yang keluar dari tubuhnya dan menyinari leher-leher unta di Bushra (atau bangunan di Bushra). Beberapa saat kemudian, Muhammad lahir ke dunia.

Ada juga riwayat lain yang mencatat bahwa Siti Aminah melihat cahaya dari dirinya sendiri yang menerangi istana-istana di tanah Syam. Menurut penafsiran Ibnu Katsir dalam tafsirnya, mengapa hanya negeri Syam yang disinari oleh cahaya tersebut? Hal ini dianggap sebagai isyarat akan kejayaan dan kekokohan agama Islam di tanah Syam.

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim disebutkan, "Akan selalu ada kelompok dari umatku yang menunjukkan kebenaran. Tidak masalah jika ada orang-orang yang enggan membantu mereka. Mereka akan tetap pada jalannya sampai datangnya hari kiamat."

Kelompok ini adalah orang-orang yang tinggal di wilayah Syam, seperti yang dijelaskan dalam Shahih Al-Bukhari.

Ibnu Rajab juga mengungkapkan bahwa cahaya yang muncul saat Nabi Muhammad SAW dilahirkan adalah pertanda bahwa suatu hari akan ada cahaya yang akan memberikan petunjuk kepada penduduk bumi, dan kegelapan kemusyrikan akan lenyap.

Sebagaimana Allah SWT berfirman,

يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ قَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيْرًا مِّمَّا كُنْتُمْ تُخْفُوْنَ مِنَ الْكِتٰبِ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍەۗ قَدْ جَاۤءَكُمْ مِّنَ اللّٰهِ نُوْرٌ وَّكِتٰبٌ مُّبِيْنٌۙ ١٥ يَّهْدِيْ بِهِ اللّٰهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهٗ سُبُلَ السَّلٰمِ وَيُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ بِاِذْنِهٖ وَيَهْدِيْهِمْ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ ١٦

Artinya: "Wahai Ahli Kitab, sungguh rasul Kami telah datang kepadamu untuk menjelaskan banyak hal dari (isi) kitab suci yang kamu sembunyikan dan membiarkan (tidak menjelaskan) banyak hal (pula). Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab suci yang jelas. Dengannya (kitab suci) Allah menunjukkan kepada orang yang mengikuti rida-Nya jalan-jalan keselamatan, mengeluarkannya dari berbagai kegelapan menuju cahaya dengan izin-Nya, dan menunjukkan kepadanya (satu) jalan yang lurus." (QS Al Maidah: 15-16)

Nabi Muhammad SAW dilahirkan pada hari Senin. Menurut mayoritas ulama, beliau SAW dilahirkan pada malam tanggal 12 Rabiul Awal Tahun Gajah. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Ishaq dari Ibnu Abbas.

وُلِدَ رَسُولُ اللَّهِ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ، لِاثْنَتَيْ عَشْرَةَ لَيْلَةً خَلَتْ مِنْ شَهْرِ رَبِيع الْأَوَّلِ، عَام الْفِيلِ

Artinya: "Rasulullah dilahirkan di hari Senin, tanggal dua belas di malam yang tenang pada bulan Rabiul Awal, Tahun Gajah."

Pada saat itu, Nabi Muhammad SAW dilahirkan dalam keadaan yatim. Ayahnya, Abdullah, telah meninggal dunia ketika ibunya masih hamil.

Ketika Nabi Muhammad SAW lahir, Siti Aminah segera mengutus seseorang untuk memberitahu Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad SAW, tentang kelahiran cucunya. Abdul Muthalib dengan gembira menyambut berita tersebut.

Dalam Sirah Nabawiyah yang disusun oleh Ibnu Hisyam, Abdul Muthalib kemudian membawa bayi Nabi Muhammad SAW ke Kakbah. Tindakan ini dilakukan sebagai tanda syukur kepada Allah atas kelahiran Nabi Muhammad SAW dan sebagai doa untuk keberkahan.

Beberapa waktu kemudian, keluarga Nabi Muhammad SAW mencari seorang ibu susuan untuknya. Praktik menitipkan anak kepada ibu susuan adalah hal umum di masyarakat Arab pada masa itu.

Tujuan dari praktik ini adalah agar anak-anak dapat tumbuh di lingkungan pedesaan yang udaranya masih bersih dan dapat belajar bahasa Arab dengan fasih di lingkungan tersebut.

"Agar anak dapat berbicara bahasa yang asli, bahasa Arab Kaum Badwi sejati, bahasa yang belum rusak karena belum dipengaruhi bahasa asing. Dengan demikian, anak dapat bertutur kata dengan bahasa Arab yang baik dan dialek Arab yang asli serta fasih," tulis Moenawar Khalil dalam Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad.

Nabi Muhammad SAW akhirnya disusui oleh seorang ibu bernama Halimah Sa'diyah, seorang wanita dari suku Bani Sa'ad.

Itulah kisah yang dialami Siti Aminah menjelang kelahiran Nabi Muhammad SAW❤️

Posting Komentar untuk "Kisah Yang Dialami Siti Aminah Menjelang Kelahiran Nabi Muhammad SAW"